Jumat, 16 Oktober 2009

UNAS Jangan Abaikan Moralitas

erlepas dari persoalan pro dan kontra berkenaan dengan format Ujian Nasional sebagai penentu keberhasilan proses pendidikan di sekolah, sebagai sebuah kebijakan di bidang pendidikan yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 ini, Ujian Nasional masih dianggap oleh pihak pemerintah sebagai sarana yang efektif untuk mengukur kualitas kecerdasan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Hal ini ditindaklanjuti pula dengan menaikkan standar nilai kelulusan. Sehingga semua pihak yang terkait dengan kesuksesan pelaksanaan Ujian Nasional menjadi sibuk sekaligus cemas, serta berupaya dengan segenap usaha agar target yang diinginkan dapat tercapai. Mulai dari siswa, para guru, kepala sekolah, orang tua, dinas pendidikan, bahkan sampai kepada para pemimpin daerah di kalangan eksekutif maupun legislatif juga turut memberikan perhatian yang cukup besar.
Ujian Nasional yang menjadi sarana evaluasi keberhasilan anak didik selama belajar di sekolah, dalam hal ini dilakukan melalui pemberlakuan standar kelulusan berdasarkan angka, sebagai hasil dari uji soal pada saat pelaksanaan Ujian Nasional. Setidaknya, dengan sistem seperti ini telah terlanjur membentuk frame berpikir di kalangan dunia pendidikan kita, bahwa peserta yang bisa lulus ujian adalah peserta yang mampu mencapai nilai sekian dalam menjawab soal-soal tes, sesuai standar yang telah ditentukan. Hal ini menyebabkan, munculnya kesibukan luar biasa di kalangan institusi pendidikan seperti sekolah, agar anak didik mereka bisa mencapai standar kelulusan yang ditargetkan.
Pada satu sisi, kesibukan dan kecemasan yang dirasakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap pelaksanaan Ujian Nasional bisa dimaklumi. Berbagai upaya yang dilakukan untuk membekali anak didik agar betul-betul siap menghadapi UNAS, termasuk dengan memberikan les-les tambahan, latihan soal, sampai kepada kegiatan Try Out Ujian Nasional, merupakan langkah-langkah yang sudah cukup baik. Namun di sisi lain, adanya Ujian Nasional dengan format saat ini, juga berpotensi untuk terjadinya pelanggaran kode etik dan moral pendidikan. Di antara bentuk pelanggaran kode etik dan moral pendidikan tersebut adalah adanya tekanan yang berlebihan dan terjadinya kecurangan demi mencapai hasil yang diharapkan.
Terkait dengan tekanan yang berlebihan terhadap siswa sebagai subyek yang berahadapan langsung dengan soal-soal UNAS, memang ada hal-hal yang bisa dimaklumi. Karena untuk memperoleh hasil yang memuaskan memang diperlukan target-target yang diembankan. Akan tetapi, jika tekanan tersebut sudah sampai pada tahap yang berlebihan, tentunya hal ini juga menjadi tidak baik bagi kelangsungan proses pendidikan. Tekanan yang berlebihan bisa menyebabkan siswa menjadi frustasi dan mengalami beban psikologis yang sangat berat. Dalam hal ini, semua pihak yang memiliki tanggungjawab terhadap fungsi pendidikan, seperti sekolah (kepala sekolah dan guru), orang tua, masyarakat, pemerintah, dan yang lainnya, perlu memberikan motivasi dan stimulasi yang lebih bijaksana. Seperti menanamkan sikap dan berpikir positif, bahwa UNAS memang penting tapi bukan segala-galanya. Daua dukung dari semua pihak sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. Bukan hanya memberikan tekanan-tekanan, baik dalam bentuk sikap maupun kata-kata.
Sedangkan mengenai bentuk-bentuk kecurangan, ini memang tidak perlu terjadi. Dalam hal ini, sekolah sebagai sebuah sistem dalam institusi pendidikan, jangan sampai menghalalkan segala cara untuk meraih target lulus sekian persen atau bahkan seratus persen. Guru yang bertanggung jawab terhadap proses pendidikan dalam kontek akademis, jangan pula malah menjadi penganjur agar anak didiknya melakukan tindakan-tindakan curang dalam proses Ujian Nasional, seperti menganjurkan kerjasama di antara peserta pada saat ujian berlangsung, menyuruh siswa yang dianggap pintar untuk membantu temannya saat mengerjakan soal, atau bentuk kecurangan lain yang memang pernah terjadi pada tahun-tahuan sebelumnya di beberapa tempat.
Pada dasarnya, melakukan perbuatan curang dalam kontek UNAS secara tidak langsung telah melakukan proses pendidikan yang salah kepada anak didik, yakni diajarkan untuk bersikap tidak jujur dan sportif. Hal ini bisa menyebabkan terbangunnya mental yang hanya berorientasi kepada hasil (harus selalu baik dan tidak realistis), bukan pada proses. Padahal pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengutamakan proses, bukan hasilnya. Proses pendidikan harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai moral. Menanamkan sifat jujur dan sportif dalam menghadapi ujian adalah sangat penting. Karena hal inilah yang nantinya akan lebih berharga dalam proses pendidikan selanjutnya. Menjadi ironis, ketika pendidikan yang ingin kita lakukan adalah dalam rangka membentuk manusia yang beriman dan bertakwa, cerdas, terampil, dan berbudi pekerti, namun dilakukan dengan cara berbuat kecurangan.
Dengan demikian, bagaimanapun beratnya target yang dipikulkan terhadap kalangan pendidik dan institusi pendidikan dalam kontek Ujian Nasional ini, maka hal tersebut tidak menjadikan proses pendidikan kehilangan ruh dan moralitasnya. Artinya, pelaksanaan ujian nasional tidak boleh mengabaikan persoalan moral yang menjadi bagian dari unsur keberhasilan pendidikan yang sebenarnya. Karena sesungguhnya agenda pendidikan itu setidaknya memuat beberapa hal penting, di antaranya: (1) Pendidikan sebagai proses kemanusiaan dan pemanusiaan; (2) pendidikan sebagai pembentuk moral bangsa; dan (3) pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu potensi kemanusiaan (Sudarwan Danim, 2006: viii). Sehingga dengan demikian, tidak ada artinya jika hanya untuk mencapai target kelulusan, tetapi tidak memperhatikan kebenaran prosesnya.
Meskipun demikian, kita tetap yakin dan percaya bahwa semua pihak yang bertanggungjawab atas suksesnya pelaksanaan Ujian Nasional yang tinggal beberapa pekan lagi, dapat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan lebih berpikir untuk benar-benar melakukan proses pendidikan yang baik dan konstruktif. Akhirnya, walaupun Ujian Nasional bukanlah satu-satunya faktor yang dapat menunjukkan kualitas pendidikan di Indonesia, namun kita tetap berharap Ujian Nasional kali ini bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pendidikan, baik masa sekarang maupun yang akan datang, Wallau’alam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar