Jumat, 16 Oktober 2009

Hati dan Batu

atu adalah di antara banyak benda mati yang ada di bumi ini. Secara fisik, batu ada yang berukuran besar dan juga ada yang kecil. Sejak dahulu hingga sekarang, benda yang disebut batu sifatnya adalah keras. Jangan coba untuk memecahkan batu dengan kepalan tangan (tinju), bukan batunya yang pecah, tapi malah tangan kita yang akan remuk dan berdarah. Namun demikian, walaupun batu merupakan benda yang keras dan bisa berbahaya apabila jatuh menimpa kita, namun di sisi lain sangat banyak manfaat yang bisa digunakan oleh manusia dari benda yang bernama batu ini. Bahan dasar bangunan sekarang banyak yang menggunakan batu, untuk pondasi jalan raya yang di aspal juga memerlukan batu, untuk membuat bendungan untuk menahan air manusia memerlukan batu, dan banyak lagi kegunaan lainnya. Dengan kata lain, batu merupakan suatu benda yang bisa mendatangkan bahaya, tetapi banyak pula manfaat yang dapat diberikannya bagi kehidupan manusia.
Lain lagi dengan yang namanya “hati”. Hati merupakan unsur vital yang menjadi kehidupan bagi manusia. Seorang ulama sufi, Imam Al-Ghazali menyatakan dalam Kitab “Rahasia Hati”(1998: 6), bahwa kemuliaan dan keutamaan manusia yang melebihi makhluk-makhluk lainnya adalah karena manusia memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan-nya, yang dengan itu manusia memperoleh kebagusan, kesempurnaan, dan kebanggaan di dunia dan akhirat. Hatilah yang pada hakekatnya taat kepada Tuhan, sedang ibadah-ibadah yang dikerjakan oleh anggota badan adalah penjelmaan dari cahaya hati. Sebaliknya, hati pulalah yang durhaka dan ingkar kepada Tuhan, dan kejahatan-kejahatan yang terjadi pada anggota badan itu merupakan pantulan sinar gelap yang membekas di hati.
Selanjutnya Al-Ghazali mengungkapkan bahwa hati (Al-Qalbu) mempunyai dua pengertian, yakni yang Pertama, Al-Qalbu (hati jantung) yang berupa segumpal daging berbentuk bulat memanjang yang terletak di pinggir dada sebelah kiri, yaitu segumpal daging yang mempunyai tugas khusus, di dalamnya ada rongga-rongga yang mengandung darah hitam sebagai sumber ruh. Hati ini ada pada setiap makhluk hidup yang telah diciptakan seperti binatang, bahkan hati ini ada juga pada orang yang sudah mati. Kedua, Al-Qalbu (hati) yang berupa sesuatu yang halus (lathifah), bersifat ketuhanan (Robbaniyah) dan kerohanian. Hati yang halus inilah hakikat manusia yang dapat menangkap segala rasa, mengetahui dan mengenal segala sesuatu.
Dari penjelasan singkat tentang hati menurut Al-Ghazali tersebut, ada hal penting yang perlu digaris bawahi, yakni bahwa hati merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yakni sebagai sentral (pusat) segala perilaku dan kegiatan manusia. Dari hatilah bermuara segala hal yang menyangkut diri manusia. Baik buruknya akhlak seseorang adalah merupakan pancaran dari bersih tidaknya hati seseorang. Seorang ahli bijak menyatakan bahwa segala permasalahan bangsa yang terjadi sampai saat ini, seperti banyaknya korupsi dikalangan pejabat negara, banyaknya tindak kejahatan di masyarakat dan lain sebagainya adalah disebabkan karena kotornya hati manusia.
Lalu apa kaitan antara hati dan batu sebagaimana yang disebutkan di atas. Pada dasarnya, secara fisik antara hati dan batu sangatlah berbeda. Karena hati adalah benda yang ada pada diri manusia, sedangkan batu adalah benda mati yang berada di luar diri manusia. Tetapi ada hal yang sangat penting untuk dikaitkan berkenaan dengan keduanya, yakni ketika hati manusia (hati yang halus) sudah sangat kotor dengan berbagai noda, maka ia akan bisa menjadi keras sekeras batu. Hati yang keras akan sangat sulit untuk menerima stimulus kebaikan, seperti menerima nasehat dan masukan serta tidak peka dengan apa yang ada disekitarnya, apakah benar atau salah. Karena setiap kali manusia berbuat kesalahan (dosa), maka noda hitam akan membekas dalam hatinya. Lama kelamaan noda hitam tersebut menyelimuti seluruh hati, sehingga hati menjadi keras. Akibatnya perbuatan-perbuatan salah dan dosa menjadi hal yang biasa. Firman Allah SWT,“Malahan telah mengotori atas hati mereka apa-apa yang mereka perbuat” (QS.Al-Muthoffifin:14).
Apabila kerasnya batu masih memiliki manfaat bagi manusia, namun kerasnya hati manusia menjadi kebalikannya, yakni akan sangat banyak mendatangkan masalah dan kerugian, baik bagi pelaku maupun lingkunganya. Apabila untuk menghancurkan kerasnya batu agar bisa dimanfaatkan harus menggunakan peralatan yang seimbang seperti besi, maka untuk menghancurkan kekerasan hati agar bersih dan tenang, diantarnya adalah dengan mengingat Tuhan sebagai sang pencipta dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan di tengah-tengah kehidupan manusia. Adapun bentuk dari mengingat Allah itu, tidak hanya terbatas pada pelaksanaan ibadah-ibadah ritual saja, seperti ibadah shalat dan puasa. Akan tetapi mengadakan dan mendatangi majelis-majelis ilmu adalah bagian dari upaya mengingat Allah. Kesemua hal tersebut jelas menunjukkan, bahwa upaya pengabdian kita kepada Tuhan, tidak cukup hanya dengan bentuk aktifitas hati saja, tetapi bagaimana hati dapat menggerakkan energi jasad dan pikiran kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang positif.
Belajar dari sejarah orang-orang terdahulu, mulai dari tokoh muslim terbesar sepanjang kehidupan manusia yakni Nabi Muhammad saw, maka akan ditemukan bahwa kecerdasan yang dimiliki beliau yang paling utama adalah terletak pada kecerdasan hatinya serta mampu mengkombinasikan kekuatan emosional dan kecerdasan spiritual. Dari kecerdasan hati inilah, selanjutnya Muhammad dikenal sebagai orang yang paling kuat ibadahnya, sangat baik akhlaknya, serta cerdas intelektualnya. Konsep keseimbangan antara penjagaan hubungan vertikal dengan sang khalik dan hubungan secara horisontal dengan sesama manusia, dapat di jalankan dengan baik.
Begitupun tokoh-tokoh lain yang muncul sepanjang perjalanan sejarah ummat dari dahulu sampai sekarang, walaupun kualitasnya belum sebanding dengan Nabi Muhammad, tetapi kemunculan mereka tidak terlepas dari unsur kekuatan hati yang sinergi dengan kekuatan jasad dan pikirannya. Sebut saja cendekiawan muslim Ibnu Sina, walaupun ia lebih dikenal sebagai seorang filsof dan ahli kedokteran yang mampu membuat karya besar bagi peradaban ummat, tetapi jangan lupa bahwa ia adalah seorang ulama yang juga ahli dalam ilmu agama. Kekuatannya, tidak hanya terletak pada kecerdasan otaknya, tetapi juga kemauan dan kemampuan untuk selalu menumbuh suburkan kecerdasan emosi dan spiritualnya, yang sudah tentu bermuara pada kekuatan hatinya.
Dengan demikian, kalaupun saat ini hati-hati kita masih terasa “keras” seperti batu, maka harus selalu ada upaya untuk menata dan membersihkannya. Rasanya tidak ada artinya ketika setinggi apapun kedudukan jabatan dan pendidikan kita, tetapi justru semakin banyak perilaku jelek yang selalu kita lakukan. Bukanlah suatu keberhasilan namanya, di saat kita sibuk mementingkan kesenangan pribadi, tetapi melupakan kondisi orang lain atau bahkan membuat mereka menjadi sengsara. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama. Wallau ‘Alam Bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar