Saat ini, saudara-saudara kita ummat Islam dari seluruh penjuru dunia yang menunaikan ibadah haji telah berkumpul di tanah suci Makkah al-Mukarramah. Sebagai pusat pelaksanaan haji, Makkah merupakan di antara tempat penting dan bersejarah bagi ummat Islam. Ka’bah yang berdiri di wilayah masjidil haram, merupakan sebagian dari simbol persatuan dan kebersamaan ummat Islam di seluruh dunia. Pelaksanaan ibadah haji merupakan wujud implementasi nilai-nilai kebersamaan tersebut dan menjadi puncak kedewasaan mental-spiritual seorang muslim, karena menjadi titik sinergi kewajiban individual dan amanah sosial.
Ibadah haji dengan serangkaian ritualnya, merupakan ibadah yang sangat penting kedudukannya dan sangat berat pelaksanaannya. Disebut ibadah yang sangat penting, karena ibadah haji merupakan puncak dari kesempurnaan ibadah. Dikatakan berat, karena untuk melaksanakan ibadah haji tidak cukup hanya bermodalkan kemauan, tetapi ada beberapa persyaratan penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh seseorang yang hendak melaksanakannya. Di antara persyaratan penting itu adalah: niat yang mantap, fisik yang kuat, ilmu yang banyak dan biaya yang mapan. Setidaknya, seseorang yang sedang atau sudah melaksanakan ibadah haji telah memenuhi perasyaratan tersebut. Adapun tujuan akhir dari pelaksanaan haji dan merupakan harapan semua orang-orang yang melaksanakannya adalah mendapatkan predikat haji mabrur dari Allah swt.
Persoalan haji mabrur pada dasarnya adalah sesuatu yang sangat abstrak. Sehingga setiap individu memungkinkan berbeda dalam penilaiannya. Namun berdasarkan sumber-sumber Islam dan pernyataan para ulama dapat difahami, haji mabrur dalam makna yang sederhana adalah orang yang diterima aktifitas ibadah hajinya dan meningkat kesholehannya. Dan di antara indikator penting dari seorang yang mendapatkan predikat tersebut adalah semakin meningkatnya kesholehan diri serta mampu mentransformasikan kesholehan tersebut dalam kehidupan sosial. Dalam bahasanya Zakiah Darajat (seorang pemikir pendidikan) disebutkan, “seorang individu yang memiliki kesholehan secara pribadi dan kesholehan secara sosial”. Pada titik ini tidak berlebihan jika diungkapkan bahwa semakin banyak orang yang telah melaksanakan haji, maka harusnya semakin meningkat pula kualitas kehidupan di masyarakat.
Di Indonesia, menurut catatan beberapa sumber, setidaknya kurang lebih 200.000 orang yang melaksanakan haji setiap tahunnya. Kalaupun tidak dikarenakan faktor kuota haji yang memang secara teknis harus di batasi oleh pemerintah, mungkin jumlah tersebut bisa menjadi lebih besar. Melihat kenyataan yang demikian, pada satu sisi hal ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Tingginya angka orang-orang yang setiap tahunnya untuk berangkat haji, bisa diasumsikan sebagai potret nyata spirit keberagamaan masyarakat muslim di Indonesia telah meningkat. Jika di tinjau dari aspek perkembangan standar ekonomi, hal ini dapat pula diasumsikan bahwa sebagian ummat Islam, baik yang sedang, sudah, maupun yang akan berangkat haji, kehidupan ekonominya terbilang mapan. Walaupun saat ini dunia tengah mengalami krisis ekonomi global, namun sepertinya hal tersebut tidak banyak memberikan pengaruh. Karena nyatanya, pendaftaran keberangkatan haji tak pernah sepi peminat.
Selanjutnya kalau dikalkulasi dari segi kuantitas, jika setiap tahunnya umat Islam di Indonesia sekitar 200.000 orang yang berangkat haji, maka sudah berapa ribu atau bahkan berapa juta orang yang telah menjadi haji. Mulai menteri, gubernur, sampai rakyat jelata, dari Sabang sampai Merauke, dari pedesaan sampai perkotaan, ada yang sarjana dan ada pula yang tidak bersekolah dan sebagian besar dari mereka membayar sendiri. Apabila dikorelasikan dengan indikator seorang yang dapat meraih predikat haji mabrur, merupakan jumlah yang cukup besar untuk melakukan perbaikan dan memberi kemanfaatan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Karena sebagaimana diungkapkan di atas, haji mabrur adalah haji yang mampu mendedikasikan dirinya sebagai agen perbaikan di masyarakat, negara, atau minimal bagi dirinya sendiri.
Di sisi lain, hal penting yang perlu untuk menjadi pertanyaan bagi kita semua, sudah sejauhmana signifikansi besarnya jumlah orang yang pergi haji dengan perubahan di masyarakat kita. Idealnya, setelah pulang dari Makkah, seseorang yang sudah menunaikan ibadah haji, menjadi sosok yang lebih baik dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakatnya. Bukan hanya sekedar bangga dengan gelar haji dan di tempatkan pada posisi yang dimuliakan pada sa’at acara-acara tertentu. Akan tetapi ia mampu memberikan manfaat yang lebih banyak bagi lingkungan sosialnya. Karena haji bukanlah persoalan gengsi maupun prestise sosial, tetapi haji merupakan simbol kualitas kemanusiaan.
Menyatakan bahwa sejauhmana signifikansi jumlah orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah haji dengan perubahan di masyarakat, bukan berarti mengenyampingkan usaha, aktifitas serta kontribusi “komunitas haji” untuk masyarakat sampai hari ini. Namun perlu diperhatikan, bahwa tidak sedikit di antara para haji yang hanya cukup dengan gelar haji dan selanjutnya hanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan yang lebih ironis, malah menjadi sumber dan bagian dari permasalahan.
Realitas kehidupan masyarakat di Indonesia, sampai saat ini masih penuh dengan berbagai persoalan. Banyaknya kasus-kasus dan permasalahan sosial yang terjadi, seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bangsa ini. Mulai dari kasus korupsi, manipulasi, penyalahgunaan wewenang, kesenjangan sosial, kebrorokan moral dan banyak lagi yang lainnya. Singkatnya, negara kita masih menduduki peringkat tinggi kalau berbicara soal kasus-kasus demikian. Kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang misalnya, umumnya dilakukan oleh para pejabat. Padahal jika mau jujur, para pejabat tersebut, baik yang di eksekutif, yudikatif maupun legislatif, di pusat maupun di daerah, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang telah menunaikan haji, bahkan ada yang sampai beberapa kali.
Dengan banyaknya persoalan yang ada, menuntut partisipasi semua pihak untuk dapat bersama memikirkan dan mengatasinya. Tentu saja di antara pihak yang ikut bertanggungjawab untuk memberikan peran tersebut dalam hal ini adalah para haji. Orang-orang yang telah menunaikan haji sangat diharapkan, setidaknya untuk dapat menjadi pelopor kebaikan, bukan malah kebalikannya. Akhirnya, semoga saudara-saudara kita yang sa’at ini tengah menunaikan ibadah haji, dapat kembali dengan selamat dan memperoleh predikat haji mabrur, yakni para haji yang meningkat kualitas individunya dan mampu menjadi agen perbaikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Jumat, 16 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar