Minggu, 28 Maret 2010

Eksistensi Pendidikan Di Tengah Budaya Instant

Kehidupan masyarakat dunia saat ini telah berada dalam era globalisasi dan peradaban teknologi-informasi (masyarakat informasi). Dalam peradaban ini, terdapat saling ketergantungan (interdependency) yang kuat, terutama pada masalah-masalah ekonomi, sosial, politik, dan kultural antarbangsa. Sekat-sekat yang memisahkan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia menjadi semakin terbuka. Begitupun arus informasi dan fasilitas teknologi, telah menjadi media yang sangat dekat dengan segala bentuk aktivitas kehidupan manusia. Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, bahkan sampai ke pelosok desa.
Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan menyentuh semua aspek kehidupan, pada satu sisi memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan kualitas kehidupan manusia. Karena dengan dukungan teknologi memungkinkan seseorang untuk melakukan berbagai kegiatan dengan lebih cepat dan lebih akurat, seperti dukungan teknologi bagi perkembangan ilmu kesehatan yang dapat membantu memudahkan diagnosa suatu penyakit atau memonitor perkembangan janin dalam kandungan. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula pengaruh buruk (negatif) yang dapat ditimbulkannya, terutama yang berdampak pada perubahan “budaya”. Dengan segala sesuatu yang semakin praktis, mudah dan cepat, telah memunculkan sebuah bentuk budaya baru yang disebut dengan budaya instant.
“Budaya” sendiri menurut Edward Burnett Tylor adalah suatu keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, serta segala kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat, sedangkan “instant” berarti segala sesuatu yang bersifat mudah, cepat dan praktis. Instant dapat disebut sebagai budaya, karena hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan manusia. Jika kehadiran budaya instant yang dimaksud dalam pengertian ini dikorelasikan dengan konteks kemajuan zaman dan tingginya tingkat persaingan kehidupan pada saat ini, secara sekilas tidak ada yang salah dengan pola atau gaya hidup manusia yang ingin serba cepat, mudah dan praktis. Karena dengan kondisi kehidupan yang demikian, memang menuntut setiap orang untuk bergerak cepat agar tidak tergilas oleh kemajuan peradaban. Akan tetapi, apabila setiap orang yang dengan segala keperluannya sudah sangat tergantung pada hal-hal yang bersifat instant dan selalu berorientasi untuk mencapai segala sesuatu dengan cara-cara yang instant, maka hal ini akan berpotensi menimbulkan banyak persoalan dalam kehidupan manusia.
Dalam bidang teknologi-informasi misalnya, dengan hadirnya berbagai fasilitas teknologi komunikasi, seperti komputer (internet), telpon seluler, televisi (digital), dan yang lainnya, sebenarnya sangat memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk mengakses berbagai infomasi secara cepat. Akan tetapi, seringkali dengan bantuan teknologi dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya dengan cara yang singkat tanpa memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan program televisi, banyak acara yang menyuguhkan hal-hal yang bersifat instant, seperti penjaringan idola agar bisa terkenal secara cepat, acara kuiz untuk mendapatkan rezeki (uang) secara mudah tanpa bekerja keras, berita selebriti yang selalu ditampilkan dari sisi persoalan dan gaya hidupnya yang serba instant, atau pun acara sinetron yang lebih banyak menampilkan hal-hal yang tidak realistis. Tak ketinggalan dalam dunia birokrasi, ada di antara pejabat yang 'rela' menghalalkan segala cara untuk dapat menduduki posisi/jabatan tertentu secara instant, tanpa memperhatikan jenjang karier yang harus dilewati.
Dalam dunia pendidikan, pengaruh budaya instan juga tidak dapat dihindari. Di kalangan siswa/mahasiswa, ada di antaranya yang ingin mendapatkan nilai tinggi secara instan, tanpa perlu belajar dengan giat. Ada juga yang belajar secara instant dengan slogan “yang penting selesai”, seperti model SKS (sistem kebut semalam), laporan tugas dengan“copy paste”, dan lain sebagainya. Bahkan ada pula yang ingin mendapatkan ijazah perguruan tinggi secara instan, tanpa memperdulikan aspek proses yang harus dilakukan, sehingga muncul istilah “ijazah oriented” dalam dunia pendidikan dengan mengabaikan aspek kualitas. Sebaliknya, budaya membaca, bertanya dan menulis sebagai bagian dari proses pembelajaran, tampaknya sudah kurang diperhatikan.
Melihat fakta yang demikian, budaya serba instant yang berkembang dalam kehidupan manusia, terutama dalam dunia pendidikan, dari sisi sifatnya cenderung mengabaikan dimensi “proses” (yang baik) untuk mencapai keberhasilan. Padahal, yang namanya “proses” merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yakni sebagai sesuatu yang dapat memberikan makna terhadap segala hal yang dilakukan. Karena secara hukum alam, apa pun yang eksis di dunia ini pada dasarnya semuanya melalui rangkaian proses. Bahkan tidak sedikit yang melalui proses cukup panjang baru dapat menjadi sesuatu yang seperti sekarang. Orang yang sukses dalam hidupnya, jangan hanya dilihat ketika ia sudah berada pada posisi yang mapan, namun perlu diketahui juga, bagaimana cara dan berapa banyak waktu yang diperlukannya untuk sampai pada tujuan. Apabila banyak orang telah mengabaikan dimensi proses dan lebih mengedepankan ambisi serba cepat dan mudah untuk meraih keinginanannya (tujuan), maka sesuatu yang diraih sesungguhnya tidak akan memberikan makna apa-apa dan bahkan menghilangkan makna kehidupan itu sendiri.
Adanya kesadaran dan pemahaman yang baik akan sesuatu yang dilakukan, merupakan persoalan penting yang harus diperhatikan. Adapun sarana utama yang dapat memberikan pemaknaan dan pemahaman yang baik kepada manusia, sesungguhnya adalah kembali kepada kualitas pendidikan yang dijalankan. Pendidikan sendiri pada dasarnya adalah sebuah proses yang bertahap dan bertingkat. Esensi pendidikan sebagai sebuah proses, setidaknya dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: Pertama, Dalam perspektif manusia pendidikan pada hakikatnya adalah proses sosialisasi, terutama proses atau usaha untuk memasyarakatkan nilai-nilai (moral-keagamaan), ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan. Kedua, Dalam sudut pandang individu, pendidikan merupakan sebuah proses perkembangan potensi yang dimiliki secara maksimal dan diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berguna untuk kehidupan manusia secara umum.
Dengan demikian, dunia pendidikan dengan segala aspek yang terdapat di dalamnya, sudah seharusnya dapat memperhatikan dan menekankan dimensi proses pada setiap aktivitas pendidikan yang dijalankan. Usaha penanaman nilai-nilai yang positif dalam proses pendidikan, merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang perlu digalakkan, sehingga eksistensi pendidikan bagi kehidupan manusia benar-benar dapat menjadi sentral kendali, terutama dalam aspek moral, nilai, kegamaan dan sebagainya. Jangan sebaliknya, keberadaan pendidikan justru tidak bermakna apa-apa dan tidak memiliki kemampuan berbuat apa, ketika berhadapan dengan arus kemajuan zaman dan gempuran budaya instant. Dalam hal ini, tentu saja kembali kepada kita semua untuk menentukan sejauh mana kualitas pendidikan yang akan dijalankan. Siapa dan apapun profesi kita, semuanya memiliki tanggung jawab yang besar untuk memberikan kontribusinya dalam membangun peradaban dunia pendidikan.Wallahu'alam.